I CAN’T SAY I LOVE YOU

Sore itu, ketika aku sedang terlelap di bawah pohon maple yang begitu indahnya menjatuhkan dedaunan yang  jatuh berirama, hembusan udara dingin seakan menjadi irama melodi , tarian  ranting ranting pepohonan dan menambah jatuhnya dedaunan yang berwarna merah ke kuningan itu yang seakan kian menambah kenyamananku. Matahari yang akan berganti dengan bulan  merubah warna langit yang biru menjadi jingga ke merahan  tak gentar membuatku beranjak dari sana. Namun, tiba-tiba seseorang datang menghampiriku berbisik “ Putri, mengapa kamu tidur disini ?”, perlahan kubuka mataku dan ternyata seseorang yang tak asing bagiku, pangeran yang aku impikan selama ini  sekaligus teman masa kecilku Dito Saputra. Senyumannya  dan membuat seluruh darahku  menjadi satu. Lalu  dia menggandengku  ke suatu tempat yang tampak seperti istanah di negeri dongeng ,dengan kereta kudanya dia  membawaku ke tengah pesta di Istanah nan megah itu dan mengajaku berdansa denganya. Langkahnya perlahan menghanyutkan ku dibawanya. Dia berbisik kepadaku dengan kata kata yang membuatku diam membisu. Dia tersenyum dan kemudian perlahan menghilang dari hadapanku, aku berlari mencarinya , namun di setiap sudut Istanah nan luas ini aku tak dapat menemukanya, semua menjadi gelap gulita.

“Hey! Bangun! 5 menit kamu belum merubah posisimu aku tinggal !”

“hmmm…dingin, jangan pergi..jangan pergi…”

“ha ? ni cewek parah ya, bangun hei ! “jawabnya sambil menarik selimut tidurku

Perlahan ku buka mataku , “ Dito ?”

“ Posisi tidur yang luar biasa, cepet bangun kalau tidak nanti…”

Tersadar dari mimpi itu, aku sadar bahwa pangeran sesungguhnya berdiri tepat di depan ranjang tidur ku,  dengan sepontan aku melemparinya dengan benda di sekelilinngku

“ hey! Hey! Apa-apaan si ? sakit tau !! “

“ Ngapain kamu di sini?! Masuk dari mana kamu?!  Keluar!”

“ Dari pintu lah, memangnya dari ventilasi! Iya udah dong ngelemparinya sakit tau !”

Kucoba kontrol emosiku “ Kenapa kamu bisa masuk ?”

“ Makanya kalau mau tidur cek dulu pintunya !”  Dito mengejek “ ehh gak kena.”

“ keluar !!”

Dia pun keluar dengan wajah yang merah akibat lemparanku tadi, tubuhku serasa masih tidak percaya, sang Dito yang muncul di mimpiku dan sekarang muncul di dunianyata dan melihat posisi tidurku seperti tenggelam di lautan luas. Bodohnya aku

Melihat ke arah jam “Hah ?! jam setengah tujuh?! Gila telat aku !”

Dengan cepatnya aku berkemas kemas untuk berangkat ke sekolah , dan aku berlali keluar kamar tidurku

Menarik tanganku “ Hebat, tepat 5 menit kamu sudah siap”

“Peduli amat kamu.” Jawabku ketus

“ dilihat dari tampilanmu sepertinya ….” tanyanya sambil tersenyum tipis

Melepaskan tanganku “ iya aku tau belum mandi, kamu kenapa masih berdiri disini?”

“Nungguin kebo”

“ hah?!  Siapa ? ”

“ Ni baru  keluar, udah ayo berangkat telat nih!” jawabnya sambil mengajaku keluar

“ hyaaaah…ditto!” terikaku marah

Teriaku terhenti di tengah jalan ketika dia meggandeng  tanganku ke luar rumah. Seakan amarahku redup seperti panasnya musim kemarau yang di turuni air hujan.

“hey, bau apa ini? Kamu pakai parfumnya 1 botol sekaligus ya put ?!” sindirnya

“ ih, sorry ya dit, aku pakai 1 galon sekaligus kok, santai aja dit.” Jawabku

Mendengar jawabanku dia tertawa lepas membuat lesung pipitnya terlihat jelas. Dia mengayuh sepedanya kearah sekolahan dengan cepatnya menembus angin. Aku hanya bisa berteriak dan berpegangan di korsi boncengan sepeda favoritnya itu.

“ Dito! Pelan pelan!” teriakku ketakutan

“ salah siapa bangunmu kesiangan! Pegangan Put.” Jawabnya sambil menarik tanganku ke depan

Moment itu sungguh tak bisa ku lupakan. Aku berharap Tuhan mau membuat waktu berhenti berputar agar aku bisa memeluknya seperti ini. Aku hanya bisa cengar cengir senang bisa bersandar di punggung Dito yang di idamkan banyak cewek di sekolahku tanpa menghiraukannya yang mati matian mengayuh sepeda itu menuju sekolah. Sesampai di gerbang sekolah yang sudah tinggal seperempat membuka itu, dengan lincahnya Dito menerobos masuk ke parkiran sepeda tanpa menghiraukan kicauan guru STP2k yang bertugas memanggil kita berdua.

“buruan Put, ayo lari sudah bel !” teriaknya usai memarkir sepeda

“ oke siap, siapa yang duluan sampai, Es cincau menanti !” jawabku meresponya

“ Deal” jawabnya

Kami berdua berlari masuk ke koridor dan terus berlari berlomba menyentuh pintu masuk kelas. Seharusnya aku sadar kalau sampai akhir duniapun aku tak akan pernah bisa mengalahkanya karena dia atlit lari marathon tingkat Nasional. Namun siapa peduli.

“ huh… Save !” teriak Dito

Satu kelas menatapku dan Dito yang terengah engah dan tertawa melihat kami berdua  terpontal pontal masuk ke dalam kelas.

“ Hei, sabar dong!”

“ Mau aku sabar apa mau di jemur kaya ikan asin di luar?!” jawabku

Kemudian kami memasuki jam pelajaran hari ini seperti biasanya. Kemudian Dito yang duduk di sebelah bangku ku  berbisik padaku

“berat badanmu tambah 10 kilo ya ?”

“ Ya Tuhan jahatnya.” jawabku

“Haha. Oh iya cincaunya satu yang manis ya”

Aku berhenti menulis , “Tunggu gajian ya”

“kapan ?!” jawabnya dengan berbisik agak tinggi

“ Tunggu aku mencalonkan jadi Presiden” jawabku lagi

“ Hah ? keburu Es cincau di larang pemerintah!”

Guru yang mengajar menyuruhku dan Dito untuk diam, aku tersenyum tipis dan melihat kearah Dito yang juga ikut tersenyum melihatku, kemudian guru itu menghentikan pelajaranya dan mempersilahkan murid pindahan untuk memperkenalkan dirinya.

“ perkenalkan , nama saya Intan Candrawati pindahan dari kota solo ke sini karena pekerjaan orang tua.” Ucapnya singkat

Aku lupa jika ada murid pindahan dari luar kota hari ini, dia kemudian berjalan kearahku dan duduk di depan bangku ku.

“ Namaku Intan, kamu ? “ tanyanya sambil tersenyum lembut

“ A,,aku Putri. Salam kenal.” Jawabku terbata karena kebingungan

Terlintas ingin memperkenalkannya pada Dito, namun tatapan mereka sudah bertemu dan tampaknya mereka saling kenal satu sama lain. Aku ingin tahu sebenarnya ada apa di antar mereka.

***

Usai jam pelajaran sekolah, semua orang satu persatu meninggalkan kelas , aku putuskan menghampiri Dito yang masih duduk di bangkunya

“ kamu kenapa Dit ?” tanyaku

Dito masih diam dibangkunya dan melihat ke arah murid baru yang hendak keluar itu dengan wajah yang belum pernah aku lihat sama sekali

“ Kamu kenal denganya Dit ?” tanyaku penasaran

Dito melihat ke arahku dengan ekspresi cueknya “ Udah ndak penting buat di bahas”

Dia berkemas dan pergi meninggalkanku yang masih penasaran dengan ada hubungan apa di antara mereka. Aku pun memutuskan untuk pergi mencari tahu sendiri. Namun tak dapat hasil apa apa.

Keesokan harinya, tidak biasanya Dito tidak mengikuti pelajaran khususnya Bahasa Indonesia, aku memutuskan untuk pergi mencarinya keluar kelas. Aku menelusurinya di tiap sudut sekolah ,dia tidak ada. Sepintas teringat bahwa dia menyukai tempat yang sepi dan terang. Kuputuskan untuk pergi ke atap aula sekolah dan dugaanku ternyata tepat, namun ternyata dia tidak sendiri.

“ Kumohon jangan tinggalin aku Dit, aku kembali demi kamu”  ucap gadis itu

Aku pun ingin mendengar lebih jelas percakapan mereka, dan tersadar bahwa yang berbicara denganya adalah murid baru kemarin. Aku terkejut melihatnya yang meneteskan air matanya di depan Dito.

“ Please Dit, ku mohon kembali padaku.” Pintanya sambil memegang tangan Dito dengan erat

Terkejut mendengar kalimatnya, aku jadi teringat siapa gadis itu sebenarnya, Intan adalah cinta pertama Dito saat dia berada di SMP, dan aku tahu kalau Dito masih memendam rasa dengannya. Tak sengaja aku menjatuhkan tumpukan tiang tenda yang memecahkan obrolan mereka.

“ah, Maaf Dit…a..aku enggak sengaja.. i.ini…a.nu..:” kataku terbata

Dito yang terkejut melihat keberadaanku di sana, dia segera melepaskan genggaman tangannya  dan berjalan ke arahku. Aku pun berbalik dan berlari turun dari sana,  Rasanya aku ingin menghilang dari dunia ini, orang yang selama ini ku sayang kini telah mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini. Air mata ini terus mengalir sepanjang aku berjalan melewati barisan pintu pintu  kelas. Mengapa rasa ini hadir di hidupku ? apakah Tuhan ingin aku menderita karena cinta ? gelap semua gelap, suara orang memanggilku terus terdengar,  dan tiba tiba semua itu hilang dari pengelihatanku.

***

Pengelihatanku kembali seperti semula, namun aku tidak tahu dimana aku berada sekarang ini. Semua terang , tidak ada kegelapan satupun di sana. Tiba tiba  Sekerumunan orang muncul dan berjalan menggunakan pakaian putih menuju ke kereta yang akan membawanya. Aku pun diajak  untuk ikut pergi bersama kereta itu, aku berjalan ragu ke sana,  namun tiba tiba ada suara yang memanggilku dari jauh, aku pun berbalik dan mencarinya. Aku berlari mencarinya, suara itu semakin jelas dan jelas kudengar, sampai aku tahu suara itu, siapa pemilik suara itu.

“ Putri. Kamu tidak apa ? ada yang sakit ? sebelah mana put ?” tanyanya khawatir

Aku pun membuka perlahan mata yang begitu berat ini, aku melihat sekeliling ku dan berhenti pada Dito yang memancarkan wajah khawatirnya.

“ Ini dimana ? uhh…” tanyaku sambil memegang kepalaku yang sakitnya bukan main

Dito menggengam erat tanganku dan bercerita semua. Dia bilang aku terserempet mobil yang berjalan di depan sekolah dan kepalaku terbentur keras dan menyebabkan jahitan yang sekarang aku rasakan. Dia keluar dan memanggil dokter untuk memeriksa keadaanku.

“ Anda keluarganya ?” Tanya dokter ke Dito

“ Bukan dok, saya temanya.” Jawab Dito

Dokter melihat sekeliling “ Bisa hubungi keluarganya ?”

“ orang tua saya sudah cerai dok, saya tinggal sendiri dan lost kontak dengan mereka.” Jawabku lemas

“ Saudara ?” tanyanya lagi

“ Tidak ada dok.” Jawab Dito

Dokter pun menghela nafas dan menyuruh Dito untuk keluar sebentar karena ada sesuatu yang harus di bicarakan kepadaku. Dito pun awalnya menolak namun akhirnya dia keluar dan menutup pintu.

“ Mbak putri, bagaimana keadaanya ? bagian mana yang sakit ?” Tanya dokter dengan ramah

“ Tidak ada dok, ada masalah ya dok sama tubuhku ini ?”

“ sebelumnya saya minta maaf  karena harus langsung mengatakan kepada mbak, karena saya tahu mbak kuat.”

“ Ada apa dok ?”

“ Ada pembesaran pembuluh nadi di bagian otak mbak Putri. Itu suatu saat bisa pecah kapan saja..”

Aku punterkejut dan berusaha bangkit dari tempat tidur untuk mendengar dengan jelas dari dokter.

“apa dok ? pembengkakakan ?”

“ Iya benar. Itu bisa jadi Bom waktu kapan saja.”

Aku pun menangis dan hanya bisa menangis dan meratapi semuanya. Dokter hanya bisa tertunduk dan mencoba untuk menenangkan rasa sedihku ini.

“ tidak ada rencana untuk menyembuhkannya dok ?” tanyaku

Dokter hanya terdiam dan menatapku dengan ekspresi menyesal dan meminta maaf dariku. Kemudian dokter memberiku suntikan pemati rasa sakit. Kemudian dokter meninggalkan ruangan Dito masuk dan  aku mencoba untuk tenang dan bersikap seperti tak terjadi apa apa.

“ Dokter bilang apa Put ?”

“ hmm dia bilang aku enggak apa, paling sebentar lagi sembuh Dit, tenang saja aku kuat kok hehe.” Jawabku

Tiba tiba Dito memegang tangaku dan menatapku dalam-dalam.

“ Put aku mau ngomong sesuatu. Aku udah lama mendam dari kamu.”

“ haha mendam apaan coba Dit ?” jawabku mencoba tidak menangis

Dito memelukku erat dan kemudian berbisik ke telingaku dengan kata kata yang sudah ku nanti nanti selama ini.

“ Aku suka kamu Put.”

Aku terdiam membisu mendengar itu, kalimat yang di ucapkan pangeran yang di mimipiku dulu aku bisa mendengarnya lagi. Aku terdiam dan Dito memeluku erat. Aku hanya bisa menangis di pelukanya.

***

Satu bulan pertama aku menghabisakn hari hariku denganya. Dengan senyuman dan tetesan air mata aku melewatinya bersama Dito. Aku pun perlahan semakin dekat dengan Intan, Dia menjadi tempatku mencurahkan hati masalah kehidupanku dan tentunya tentang Dito.

“hayo, kalian ngapain di sini ?” Tanya Dito

“ Pengin aja , emang enggak boleh ?’

“Aduh ganggu nggak ya ini aku. “ ucap Intan sambil tersenyum melihat ku

Dito tersenyum dan pindah ke sampingku. “ Enggak kok tapi syaratnya aku ikutan ya ngegosipnya”

Entah mengapa rasanya hari yang biasanya aku lalui terasa begitu lama, kini serasa cepat seperti kilat. Aku takut, Aku taku semua yang dikatakan Dokter itu terjadi sekarang. Aku tak mau meninggalkan kebahagianku sekarang. Namun kelihatanya Tuhan berkehendak lain, Semua itu tiba tepat pada waktunya.

“Put, kamu kenapa ? kamu sakit ?” Tanya Intan  yang terlihat khawatir

“ ah enggak kok, kok kamu bilang gitu ?” tanyaku bingung

“ Hidungmu mimisan Put, ke UKS yuk.” Ajak Intan

Terkejut melihat darah yang keluar tanpa aku sadari, air mata ini tak bisa aku bending lagi, tapi aku tak mau menjadi beban orang di sekelilingku. Intan menggandengku menuju ke ruang UKS . Dia menemaniku di sana.

“ Kamu kenapa Put ? kenapa kamu menahan air matamu ?” Tanya Intan

Aku pun mencoba menceritakan semuanya satu persatu, dia mendengarkan dengan baik semua ceritaku tanpa terpotong sedikitpun bahkan air matanya yang berharga dia jatuhkan untuk ku.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan ? kamu menyembunyikan semua dari Dito. Bagaimana jika dia tahu?”

Aku menggelengkan kepala “ Tidak, hanya aku, kamu, dokter dan Tuhan yang tau semua ini.”

“ Aku bingung mau berbuat apa, aku tidak bisa membantumu Put, aku minta maaf .” ucapnya sambil menangis.

Aku pun memikirkan cara bagaimana menyampaikan ini ke Dito, tapi tak ada 1 cara yang muncul di otakku. Akhirnya kuputuskan ku tulis selembar surat untuknya. Dan jika saatnya tiba aku akan mencoba membuat Dito dapat hidup tanpa kehadiranku disisinya.

“ kenapa Putri tidak berangkat terus ? SMS ku sama sekali tidak di balas dari kemarin” Tanya Dito sambil menunjuk bangkuku.

Intan melihat wajah Dito dan meneteskan air matanya. Dito terkejut dan mencoba meminta penjelasan darinya.

“ Ini aku di mintai tolong sama dia buat kasi ini ke kamu, ku mohon kamu jangan marah padanya.” Ucap Intan membuat Dito bingung

“ Cuma ini ? dasar, itu cewek kalau marah kaya bom nuklir aja.” Jawab Dito ketus. “aku pulang duluan ya” sambungnya

Intan hanya tersenyum lemah dan berjalan meninggalkan kelas.dia berhenti di jendela dan memandang bebas ke langit.

“ tugasku selesai kan Put, yang tenang ya” ucap Intan sambil meneteskan airmatanya.

Di perjalanan pulang, Dito memampir untuk membaca isi surat yang ku tulis khusus untunya. Dia seakan tak percaya membaca isi surat itu dan meneteskan air matanya. Kemudian dia memandang ke langit luas.

“ I LOVE YOU TOO.” Teriak Dito sambil menangis.

Aku tak pernah menyesal pernah hidup di dunia ini, karena kamu, dia dan semua orang yang menyelamatkanku dari egoku dan aku bahagia pernah memasuki tempat terindahmu yaitu di dalam hatimu.

 

Dear my beloved Dito

Dito, sebelumnya aku minta maaf aku sudah menyembunyikan banyak cerita kepada mu aku tak pernah cerita apa yang aku rasakan selama ini ke kamu. Sebenarnya akibar kecelakaan sebulan yang lalu, Dokter berkata padaku bahwa pembuluh nadi di otakku membengkak dan dokter tak bisa berbuat apa-apa dengan itu. Saat itu rasanya seperti seisi dunia berbalik menghantam tubuh kecilku ini. Namun, cahaya putih datang menyelamatkanku, yaitu kata katamu “ aku suka kamu put” kata kata itu terus ku putar dalam otaku. Aku belum bisa membalas kata itu bukan Dit ? aku malu dan takut. Aku malu kamu akan melihatku lemah karena orang yang aku sayangi berbalik sayang denganku, pangeran dalam mimpiku yang begitu terlihat jauh namun ternyata dekat.  tetapi aku takut, aku tak bisa terus berada di sampingmu, bercanda denganmu, mengingatkanmu untuk mandi, makan, dan lainya. Aku tahu hari ini akan tiba dimana aku tak terlihat olehmu. Tapi aku tidak pernah meninggalkanmu sendiri disini. Aku bahagia pernah hidup bersamamu, meski sesingkat ini. Anggap waktu ku bersamamu seperti mimpi terindahmu jadi tak akan terasa begitu sakit. Aku akan terus melihatmu dari langit, akan ku bisikan pada Tuhan untuk selalu melindungimu.

Terimakasih kamu telah lahir di dunia ini dan mengijinkanku menjadi seorang putri dari negeri dongeng.. Aku tak akan pernah menyesaal pernah hidup di dunia bersamamu.

I LOVE YOU

 

Putri Wanditri

 

create by : Dina Amalia Alyani

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s