CAN’T LET YOU GO 1

BAB I     AWAL PERTEMUAN

Pagi  ini kurasa aku terlambat masuk sekolah. Karena harus mempersiapkan keperluan ku untuk hari pertama aku masuk sekolah baruku yaitu SMA. yah bisa dibilang persiapan semalam ku belum matang. Baru sedikit yang sudah aku tata rapi di dalam ranselku.

“kak Gita ?!! Liat Topi bola ku tidak ? Semalem Une taruh Di sini ..!!?”

Okey teman teman, sebelumnya perkenalkan namaku  Ayuna Rikanichi. Aku punya 2 panggilan berbeda di sekolah dan di rumah. Di sekolah, teman dan guru-guru memanggilku yuna. Kalau di keluargaku aku di panggil una. Lumayan aneh juga ya namaku hehe.

“ ayo..!!Una kamu masuk jam berapa!? mengapa baru berdandan !? “

Kalau ini ayahku  bernama Muryanto Ashidiq. dia bekerja sebagai Direktur Utama super sibuk di perusahaan CNO grub. Mungkin perusahaan yang di bangun olehnya belum cukup ternama di Negara tercinta  Indonesia ini, tapi kalian bertanya perusahaan ini di Negara matahari terbit alias jepang sana, aku jamin mereka semua pasti mengenalnya.

“ tujuh yah. Sebentar lagi selesai kok. . .tungggu..tunggu…kak Gita! Topiku mana ?!!!”

jawabku sambil mengikat rambutku jadi 12.

“ hemm …Ayo cepat. Perlengkapan mu semalam sudah ku bantu lengkapi. Sekarang

cepat masuk mobil Dan berangkat…sudah jam setengah tujuh kurang 10 menit itu loh dek! Oh iya ini topimu..lain kali jangan di taruh di atas tempat sampah..mau kebuang tuh!”

haha..dan yang satu ini adalah kakak perempuanku yang paling baik, cantik, pintar, dan tinggi Agita Luichi. Sekarang kakak ku bersekolah jurusan Kedokteran Universitas Indonesia. Kalian tau? Kakakku yang satu ini super duper brisik. Kalau aku buat salah sedikit koreksinya satu bak angut trek. Tapi dia baik. Dia sudah ku anggap sebagai “HIRO” di pagi hari. Karena dia tau segalanya tempat barang yang aku mau bawa sekolah. Nyawaku sering terselamatkan olehnya. Kalau Ibuku sudah berada di sisi tuhan semenjak aku dilahirkan. Jadi aku tak pernah melihat secara langsung wajahnya. Hanya dari foto pernikahan ayah dan ibu yangh di pasang di dekat ruang keluarga.

“Oke, arigatou na nee chan..Assalamualaikum..”

“Jangan lupa di kunci ya pintunya ya kak.”

“Iya pah..hati-hati ya pah…Badut..Hati-hati ya…good luck MOSnya..”

“arghh kak GITA!!!”

sentak ku yang tersipu malu dan langsung di sambung dengan tawa ayah dan kak Gita.

tapi kalian tau ? telingaku terasa panas mendengar omelan-omelan dan ejekan ayah dan kakak ku tiap pagihari. Sungguh…rasanya  telingaku perlu di THT karena terbiasa seperti ini. Bukan hari ini saja aku terlambat, bahkan kalian tau ? waktu aku duduk dibangku SD sampai SMP aku selalu bangun siang. Karena jarak rumahku sampai sekolah hanya kira kira 200 meter saja, sungguh indah masa- masa itu menurut ku. Jadi kalian bisa simpukan, ini adalah masa aku dimana belajar bangun lebih awal agar tidak terjebak macet. Maklum . . yang namanya Jakarta, berangkat aktifitas harian pukul 6 pagi saja sudah di jamin terjebak macet. Tapi entak mengapa, aku merasa biasa saja. Yah walaupun agak geli melihat mereka mengomel terus.

Sekarang sudah benar terbukti mobil ini bakal terjebak macet. Well.. semua ini karena ulahku sih . bangun kesiangan..mungkin karena aku dimanja terus waktu kecil buat bangun pagi jadi susah. Ya mungkin ayahku tau kalau aku disekolahin yang dekat rumah nanti suatu saat aku kerja pasti bakala di pecat cepet ahahaha.

30 menit perjalanan ku untuk mencapai sekolah SMA ku yang baru. Nama sekolahku SMA

Nusantara. Agak aneh sih, sekolah ini. Tapi mungkin aku akan menemukan banyak temen di sini.

“baik tuan putri sudah sampai”

“ aha. Tuan putri apa? Une sekolah dulu ya yah, Assalamualaikum”

“ waalaikumsalam..”

Saat ku turun dari mobil, aku melihat ke sekeliling karena aku masih asing di daerah ini. Kalian pasti taukan? Bias di bilang aku baru pertama kali ke sini. Pasti di dalam pikiran kalian”sudah berapa lama kamu di Jakarta?!”  well karena aku anak terakhir dan paling manja jadi aku dioverprotect ayahku dan itu sudah pasti membuat ruang lingkup ku bergerak jadi sempit. Tapi taka pa, ayah melakukan semua ini karena dia sayang padaku. Tentu saja aku juga sayang padanya.

Saat ku turun masuki gerbang, ada orang yang memanggilku

“ adek? Kesini sebentar…”

“ i..iya..” jawabku bergetar

Langkah ku terhenti ketika ada seseorang memanggilku. Saat ku berjalan mendekati kakak itu. Ternyata dia adalah panitia Mos ku tahun ini. Kalian tau teman? Dia sangat cantik, sepertinya dia mempunyai darah keturunan arab. Yah aku yakin.

“ Adek dari SMP mana ? Kakak boleh tau Nama adek siapa ?”

“ Internasional School , Ayuna Rikanichi”

Kulihat kakak itu mengambil sesuatu dari laci mejanya dan menulis sesuatu di atasnya. Sementara aku hanya bisa diam dan melihat sekitar. Sungguh ini terasa sangat asing di hidupku.

“ Ini kertas hijau dan merah, DIsimpan baik baik ya .”

“ini ….?”

“kamu akan tau dek, Selamat datang di SMA Nusantara .”

Aku hanya bisa melihatnya sambil tersenyum sedikit dan pergi meninggalkan kakak itu. Kau tau tak ku sangka kakak kelas di sini baik hati sekali ya teman ? ini buat ku semangat lagi untuk mengikuti masa Orientasi Siswa ini dengan baik. Ketika aku memasuki lapangan dan mencari daftar nama ku di papan untuk mencari dimana kelasku nanti, saat itu banyak orang yang melihatku dan berbisik bisik, sepontan membuat aku risih dan berbalik meliahat mereka. Aku melihat banyak sekali siswa yang memakai Seragam osis Smp yang biasanya yaitu Rok Span Biru dongker seragam Putih. Dan kalian tau seragamku bagaimana ? Rok  Rumbai berwarna coklat kemerahan  dan Seragam putih memakai dari biru dongker. Sebenarnya sekolah ku memakai Jas, tapi aku kurang suka memakainya jadi aku tinggal di rumah. Seketika aku menyadari sesuatu yang membuat mereka memperhatikan aku sedalam ini. Bisa di bilang aku hanya satu satunya siswa Internasional school yang masuk ke sekolah ini. Karena konon katanya siswa yang bersekolah di SMP ku dulu kebanyakan melanjutkan SMA di Internasional school grade A level. Aku hanya bias menghirup nafas panjang dan melanjutkan mencari namaku di daftar nama.

“ Siswa baru berbaris dibarisan kelas masing masing. Apel akan segera di mulai.”

Aku terkejut karena tak bisa  ku temukan nama ku didaftar kelas. Aku tak menghiraukan himbauan central dan terus mencari namaku di papan itu. Tapi hasilnya nihil.

“kamu dari Internasional School? Namamu tidak ada dek? Kamu sebaiknya baris dahulu, nanti namamu kakak carikan.” kata Panitia ospek yang langsung membuatku terkejut.

“umm..”

“ah so that it’s .. your name ayuna Rikanichi right? your class is on Xa. Follow me “ kata panitia sambil menggandengku menuju barisan kelas XA.

Kalian tau apa yang ada di pikiranku ? mengapa ia bisa tau namaku dan ditambah lagi aku bingung kenapa kakak itu berbicara menggunakan bahasa inggris dengan ku ? di sepanjang jalan aku hanya tersenyum tapi ku tutupi dengan tangan ku. Sementara kakak itu terus mencarikan barisanku.

“ So this is your line. It’s okay if you can’t speak Indonesia clearly. This school is Bilingual school.”

“HAH..??!!”

Kakak itu langsung meninggalkan ku di depan barisan. Aku jadi tahu kenapa kakak itu merubah bahasa komunikasinya padaku. Mungkin menurutnya aku tidak bisa berbahasa Indonesia dengan jelas. Padahal Bahasa jawa ngapak pun aku mengerti betul bahasa itu. Aku Cuma bisa menggaruk kepalaku dan  masuk kedalam barisan. Saat  aku berjalan kebelakang semua orang di barisan melihatku dengan wajahnya yang tidak bisa ditebak. Akhirnya aku putuskan untuk berbaris di belakang.

“what is your name?”

“tidak usah memakai bahasa inggris. Kita di Indonesia sekarang.”

Jawaban ku yang dingin itu serentak membuat semua orang yang di dekatku kaget dan melihatku dengan wajah terkejutnya.

“apa?”

“kamu bisa bahasa Indonesia ?”

Aku menarik nafas dalam dalam dan membuangnya. Tersirat di pikiranku saat ku melihat baju seragamku saat ini. Mungkin menurut mereka aku bukan orang Indonesia. Karena bisa di bilang wajahku ini mengalir darah oriental Indonesia.  Darah Oriental aku dapat dari almarhum Ibundaku, Sedangkan darah Indonesia aku dapat dari Ayahku. Tapi di lihat dari diriku saat ini darah Oriental mengalir deras mematikan darah Indonesia ku. Setelah menyadari semua itu aku tertawa pelan dan menatap siswa yang ada di depanku.

“yuna..Ayuna Rikanichi.  kamu?”

“Mei..meitina farida. Aku kira kamu bukan orang Indonesia.”

Aku hanya bisa tersenyum dan meminta dia untuk diam dan baris dengan lurus. Bisa di bayangkan apa yang ada di pikiranya. Sungguh menggila sekolah ini. Apel pembukaan di isi dengan pidato kepala sekolah dan sambutan panitia MOS tahun ini. Di lanjutkan dengan pelepasan balon yang disimbolkan sebagai tanda dimulainya Mos tahun ini.

“Semua perserta MOS diharapkan masuk kedalam kelas masing masing dengan di damping

Panitia MOS yang ada di depan barisan masing masing. Di mulai dari kelas XA.”

Barisanku mulai berjalan meninggalkan lapangan Apel pembukaan dan memasuki  gedung utama sekolah ini. Di lobbi sekolah terpampang banyak sekali tropy, foto  dan plakat kejuaraan ataupun prestasi dari sekolah ini. Aku terhenti di salah satu  foto diantara banyak foto foto di lobbi. Dan kau tahu mengapa teman? Karena terpampang jelas  foto Kak Gita, dimana dia menjuarai Umum Karya Ilmiah Remaja Tingkat Nasional. Tak bisa di pungkiri kalau kakak ku memang pantas menjadi seorang dokter. Kalian tahu ?Bisa di tebak bukan ? kakak ku dulu juga bersekolah di sini. Bisa di bilang dunia pendidikanku mengikuti kakak ku dari TK sampai SMA.  Lumayan membuatku Emosi tapi melihat tropi dan foto yang ditinggali Kak gita untuk sekolah  membuat ku semangat menghadapi hariku kedepan. Aku hanya bisa tersenyum dan melanjutkan jalan menuju kelas XA.

“Selamat datang di kelas XA adek adek. Selamat kalian Menjadi bagian dari keluarga besar SMA

Nusantara. Kalau ada yang mau di tanyakan tanyakan pada kami ya. Nama saya Santi dwi

Pertiwi XI IA2, dan kakak yang satu ini Namanya Agung Sebastian XII IS1. Kami berdua sebagai pembimbing kalian selama Masa Orientasi Siswa tahun ini.” Sambut kak Santi yang di respon baik oleh smua siswa di kelas XA.

“Sekarang Free time. Adek adek boleh berkenalan satu sama lain atau memakan bekal kalian sebelum jam materi di mulai.”

Semua anak bersorak ria sambil mengeluarkan bekal makanan mereka masing masing. Akupun juga mengeluarkan bekal makanan yang aku bawa dari rumah.

“ Yunaaaa….bawa bekal apa kamu ? bagi bagi dong..”

“ini…kamu mau ?”

“mau dong…eh aku kenalin juga mereka ber 6 ya. Dari sebelah kanan ujung sana namanya Camelia harumi, sampingnya yang gemuk itu bernama Katrina upik, sampingnya lagi bernama ayu fitriani, lanjutnya yang kurus  namanya ajeng purnama sari, lanjut bernama Ashanti putrid kumalasari, terus yang di samping kiriku bernama lulut permatasari. Mereka teman satu SMP ku.”

Aku tersenyum melihat respon mereka terhadap gaya memperkenalkan orang ala Mei padaku. Lalu mereka mengajak bersalaman satu persatu. Mereka seperti menerima ku dengan baik di sini. Aku senang merasakan atmosfir di ruangan kelas ini. Aku merasa nyaman bersama meraka.

“ apa kamu personil Girl Band dari korea selatan ?”

“ Ajeng kamu tuh jujur banget ya…tapi jangan langsung to the spot gitu tanyanya!”

Mendengar perkataan camellia tadi membuat aku tertawa dan ternyata membuat semua orang termasuk kakak pembimbing di kelas melihat kearah  bangku mejaku . sepontan aku langsung menutup mulutku.

“uppsss..ehehe”

“ Ternyata kamu enggak sedingin yang kita kira ya..oh aku minta ya. naget mu.”

“hei.. itu nagetku yang terakhir….”

Sia sia aku memperebutkan naget yang Mei ambil dengan santainya dia berkata.

“ini bukan yang terakhir..tenang saja pabriknya masih menerima pesananmu…”

Serentak mendengar jawaban Mei yang diluar dugaan membuat kami bertujuh tertawa dan membuat Mei tersedak, dan tentu saja tambah membuat kami semakin tertawa. Tawaku pun berhenti ketika ada seorang kakak kelas yang masuk kekelasku. Mungkin mendengar tawa kami yang tak tertandingi berisiknya. Dan akupun mengakui belum pernah aku melihat kakak kelas yang satu itu.

“Oi..ada apa ?”

“tau tuh…aku juga keget kak…”

Aku pun menyadari bahwa kedatangan kakak kelas itu menandakan bahwa berisiknya kelas kami itu tak bisa di control. Aku pun mencoba menenangkan teman temanku.

“sutttt….duduk!!”

“Auuuw…sakit yuna!! Ada apa?!!”

Akupun langsung menunjuk kearah pintu depan yang sudah ada guru  yang melihat. Dan sepontan mereka langsung berdesakan untuk duduk di belakang bangku ku. Betapa lucunya ekspresi mereka ketika sedang ketakutan.

“pa..pagi..pak…”

Aku Cuma bisa diam dan merunduk melihat guru yang memasang ekspresi marah di dekat pintu itu. Dengar kabar dari kak Gita, di sekolah ini banyak guru “Killer” yang gak segan segan member hukuman bahkan poin yang bisa buat muridnya keluar dari sekolah ini. Apa dia salah satunya ?

“Kalian sedang apa ?!”

“Ma..ma..kan..p. pa..k..”

Suasana di kelas ku jadi sunyi seperti tempat pemakaman. Semua murit diam termasuk kakak pembimbing. Aku merasa bersalah kalau kakak santi dan kakak agung diberi amarah sama bapak killer look itu.

“ sudah jam berapa ini ?! kakak pembimbing, sekarang jam mengisi apa di kelas saya ini ?!”

“ Free time pak bagus..ini waktu untuk makan dan perkenalan.”

Ah..aku menyadari sesuatu. Ternyata guru killer look itu home teacher ku yang bernama Bagus Kuncoro. Ahaha pantas saja dia marah ketika kelas ini rame. Maafkan kami ya pak. Tapi sepertinya aku pernah melihat wajahnya.

“ Oh.. ya sudah..di sini ada yang bernama Ayuna Rikanichi??”

Aku terkejut namaku di panggil oleh bapak bagus. Haduh… ada apa ini ?? mulai besok aku sudah tak mau ramai lagi. Karena semua ini bikin jantungku mau lepas dari sarangnya.

“ Yuna pak ? ituh…duduk di bangku nomor 3 baris ke 2..”

“  Ada apa pak ?”

“ Ini, kamu dapat titipan dari ayahmu. Ini jas sekolahmu bukan ? mengapa tidak kamu bawa?”

“itu…anu pak..Lupa..”

Ya tuhan ayah… mengapa Jas ini harus dikirimkan kemari? Padahal memang sengaja aku tinggalkan. Jas itu bisa membuat perpecahan. Dengan berat hati, aku bangkit dari tempat dudukku dan menerima jas  itu. Aku tidak bisa menatap wajah teman temanku.

“ Yuna, seharusnya kamu bangga mempunyai jas ini. Tidak semua orang bisa memakainya. Walau warnanya tidak bagus, tapi ini jas kebanggaan sekolahmu dulu yuna.”

Akupun hanya termangguk dan memberikan senyum dan ucapan terimakasih pada Pak Bagus. Akupun kembali duduk di bangkuku dan melipat jas itu kedalam laci. Bagaimana pak Bagus bisa tau ? apa dia bisa membaca pikiran seseorang? Benar benar guru killer.

“ kamu tidak mau memakainya ?”

“emm..tidak akh..panas..”

Bagaimana bisa panas? Ruangan kelas XA itu memiliki 3 AC yang menyala. Sesungguhnya aku kedinginan sampai bulu kuduku berdiri semua. Seragamku ini terlalu tipis. Aku hanya bisa mencoba bertahan sampai  jam sekolah usai.

“ Ya sudah, kakak pembimbing, sebaiknya melakukan perkenalan dengan cara satu persatu maju kedepan. Itu lebih efektif. “

“ ah siap pak. Oke adik adik kita akan perkenalan dari ujung kiri depan sampai ujung kanan belakang. Semua dapat giliran.”

Semua murit pun maju satu persatu. Mereka memperkenalkan diri termasuk hobi dan cita cita. Mereka pun di beri pertanyaan oleh kakak pembimbing dan pak Bagus. Teman teman juga di beri kesempatan untuk bertanya pada yang berkenalan agar mereka lebih dekat. Sampai akhirnya sekarang giliranku untuk memperkenalkan diri.

“ Teman teman, Perkenalkan namaku Ayuna Rikanuichi. Kalian bisa panggil aku Yuna. Hobi ku mendengarkan musik, sebelum aku berada di sini, aku bersekolah di Internasional school. Ada yang ingin di tanyakan?”

Awalnya semua orang terdiam kemudian ajeng mengacungkan tangan dan bertanya kepadaku.

“ Yuna, mengapa kamu tak mau memakai jas sekolahmu ? aku tau kalau kamu kedinginan.”

Sudah kuduga dia bertanya Tanya padaku mengapa aku tidak memakainya. Alas an panas tidak cukup untuk menutupi semua pertanyaanya. Akupun terdiam dan berfikir. Apa jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang menjegal semua ini.

“ Kamu benar sekolah di Internasional School?”

“iya kak..ada apa?”

“ apa kamu tidak suka dengan sekolah mu dulu ?”

Pertanyaan yang bertubi tubi di lontarkan oleh kakak kelas yang belum pernah aku temui sebelumnya. Sungguh aku ingin tau mengapa dia bertanya seperti itu padaku. Apa hari ini aku datang bulan ya? Mengapa aku ingin marah ? tidak! Aku tidak boleh merusak suasana ini hanya karena Jas itu.

“ Tunggu, Kakak siapa ? aku tidak pernah melihat kakak disaat apel tadi pagi. Mengapa tiba tiba muncul disini ?”

“mengapa kau berbalik Tanya ?”

“ Karena aku tidak tau siapa kakak, mengapa aku harus menjawab pertanyaan orang yang tidak aku kenal ?”

Mungkin aura kelas ku sudah berubah. Semua merasa aura dingin ku keluar.  Mungkin semua orang terkagum karena ada adik kelas yang berani dengan kakak seniornya yang baru pertama kali ditemui. Apa boleh buat. Kalau aku marah ya marah. Tidak ada yang bisa menghentikanku.

“ Oke saya ulangi. Sebelumnya perkenalkan namaku Aditya Zulfikar kelas XII IA 1. Mengapa saya tidak mengikuti Apel tadi pagi karena tugas saya bukan di lapangan. Dan sekarang saya boleh bertanya bukan, adek yuna ??”

“ Tanya apa ?”

Di kelas mulai berisik dengan omongan teman teman. Aku tidak peduli kata mereka.  Sekarang aku sedang terfokus dengan orang satu itu.

“ Apa kamu tidak memperhatikan pertanyaanku tadi ?”

“ tidak.”

Sepontan semua orang tertawa dan bertepuk tangan termasuk pembimbing kelasku kak Santi dan Kak Agung. Akupun tak mau kalah dengan keadaan kakak Aditya yang menggangu ketenangan hidupku di kelas ini.

“ tunggu sebentar, Apa kamu tidak menganggap aku ada di sini ? apa seburuk itukah ketidak hadiranku diApel pagi tadi ?”

“karena menurutku seperti  hantu kak.”

semuanya tertawa mendengar jawabanku. Bahkan pak Bagus juga ikut tertawa. Kak Aditpun ikut tertawa. Aku hanya bisa terdiam dan membuang muka kearah jendela. Saat itu bel  pergantian materi pun sudah berbunyi. Dan sudah waktunya pemberian materi.

“ ahaha..ya sudah yuna kamu duduk lagi, sudah waktunya pembekalan materi. Siapkan buku tulis kalian untuk mencatat perkenalan di lanjutkan waktu istirahat nanti usai sholat duha.” Kata kak Santi sambil bersiap keluar kelas.

Akupun kembali duduk di samping Ajeng yang masih tertawa. Aku bertanya padanya ada apa. Diapun hanya menepuk punggunggu dan terus tertawa. Begitu pula dengan katrina, camellia, Mei, Ashanti , ayu dan lulut. Pak bagus, Kak Santi, dan kak Agung sudah keluar. Kemudian di susul kak Adit yang berjalan menuju pintu kelas . tapi sebelum di keluar kelas, kak Adit melihat ke arahku kemudian tersenyum yang membuat Ajeng histeris.

“ Kak Adit ganteng ya. Kaya anggota Boy band Korea. Cocok tuh sama kamu Yuna.”

“hah?!”

“ dia ganteng bukan ??”

“mungkin dia tertarik denganmu.”

Karena aku risih dengan ucapan mereka aku pun mulai meukuli mereka dengan buku. Mereka hanya tertawa dan meledekku dengan bangganya. Sampai akhirnya guru pemberi materi pun memasuki ruangan kelas. Saat pemberian materi aku tak bisa berfikir hal lain selain wajah kak Adit. Astaga!! Apa aku sudah gila ??!! Tapi kalau difikir. Dia ganteng juga kok teman.

Bel istirahatpun sudah berbunyi. Semua teman teman langsung meninggalkan kelas untuk membeli makanan ringan di kantin belakang, ada juga yang hendak melaksanakan sholat duha.  Tak sadar ternyata aku sudah di tinggal sendirian di kelas bersama ajeng.

“loh yang lain kemana ?”

“ kalau kamu Tanya temen kita, mereka pada pergi sholat duha.”

“ kamu enggak ikut??”

“engak , Aku Nasrani.”

“oh, ya sudah  aku mau sholat dulu ya.”

Akupun izin Ajeng dan kemudian meninggalkan kelas dan menuju mushola dekat kantin. Sebelum aku keluar aku lihat wajah Ajeng yang bingung. Ku urungkan niatku untuk bertanya usai sholat nanti.  Diperjalanan sungguh terasa sejuk. Banyak daun berguguran. Setelah ku perhatikan ternyata itu pohon asem. Wah, suasananya seperti bukan di Indonesia saja. Aku merasakan seperti sedang berlibur di musim gugur. Padahal kali ini musim kemarau. Wah mimpi di siang bolong lagi nih. Sesampai di depan gerbang musola aku langsung menempatkan rukuh di tempat yang masih longgar, kemudian aku mengambil air wudhu.  Aku bersukur imam masih belum khomat. Akupun bergegas menggunakan mukenaku dan mengikuti sholat duha berjamaah hingga usai.

Usai sholat aku menggunakan sepatuku lagi. Kumelihat kesekeliling. Kantin sekolah ternyata masih ramai walau waktu sholat duha sudah selesai. Ku urungkan niatku untuk membeli cemilan. Akupun terkejut mendengar suara Mei.

“Yuna ?! kamu juga sholat ?!”

“ Iya, mengapa kamu tadi ninggalin aku di kelas ?”

Pertanyaanku belum sempat di jawab oleh Mei, kemudian kak Santi datang menghampiriku bersama kakak pembimbing lainya termasuk kak Adit.

“ Loh dek, Kamu ikut sholat juga ?”

“mengapa semua orang terkejut kalau aku ikut sholat ? ada yang aneh kah ?”

Mendengar pertanyaanku kak santi menepuk kepalaku dan meminta maaf, kemudian mereka pergi menuju aula. Aku jadi bingung mengapa , Kak aditpun lagi lagi menebar pesonanya dengan senyuman mautnya dihadapanku. Aku hanya bisa membuang muka. Reaksiku terlihat aneh dimata Mei dan yang lainya.

“ Maaf yuna, aku kira kamu tidak ikut sholat jadi kita tinggal deh sama Ajeng di kelas.”

“ Alasan kami ninggalin kamu gampang kok. Kami kira kamu Nasrani sama seperti Ajeng. Ternyata salah. Kamu ternyata sulit ditebak ya kalau dilihat dari fisik kamu.”

Hah, sudah kuduga. Kejadian ini tidak menimpaku di SMA saja. Dulu waktu di SMP sempat ada kejadian yang tidak aku inginkan. Bisa di bilang mayoritas di SMPku itu beragama Nasrani. Singkat ceritanya ini terjadi  Saat aku duduk dibangku kelas 9 SMP. Guru yang bertugas sebagai panitia adalah guru baru. Jadi belum hafal dengan semua siswanya. Yah jadinya namaku tidak di cantumkan untuk kegiatan pelatihan Haji kecil. Heranya apa guru itu tidak melihat daftar nama? Ya sudah lah itu masalalu. Tetapi kenapa harus diulang sekarang ? arrgh…melihat wajah mereka yang merasa bersalah aku pun jadi merasa bersalah karena tidak memeberi  tau mereka dari awal. Ya mungkin inilah yang namanya miskomunikasi dasaat hari pertama masuk sekolah.  Akupun hanya tersenyum dan memeluk mereka semua.

“Yuna, kelihatanya kak Adit ngelihatin deh, tuh dia kekantin ngliat kearah sini terus.”

“hah?!”

“wah jangan jangan ngeliatain aku nih aku ambil ya Yuna..”

“ Ambil sana…!”

Karena risih dan sebel mendengar ejekan mereka akupun meninggalkan mereka seketika, dan mereka langsung mengejarku. Kamipun kembali kekelas dengan tertawa. Hari pertama MOS disekolahku usai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s